Lompat ke konten
Beranda » News » Menjual Perang dengan Nama Tuhan

Menjual Perang dengan Nama Tuhan

  • oleh

Para komandan Trump mencoba mencuci otak pasukan AS yang sedang bertempur di Iran dengan menyuruh mereka bersiap untuk kedatangan Yesus dan mengeluarkan nubuat Armagedon yang mengerikan.

Ketika pejabat atau elite militer di Amerika Serikat menyebut pertempuran melawan Iran sebagai bagian dari “rencana ilahi Tuhan”, kita sedang menyaksikan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar konflik bersenjata. Kita sedang melihat agama dijadikan alat propaganda.

Bahasa seperti itu bukan sekadar retorika emosional. Ia adalah upaya sakralisasi kekuasaan. Dan setiap kali kekuasaan disakralkan, kritik berubah menjadi dosa, perbedaan pendapat berubah menjadi pengkhianatan.

Sejarah sudah memberi pelajaran mahal. Ketika negara menyebut perang sebagai kehendak Tuhan, yang lahir bukanlah moralitas, melainkan fanatisme. Tuhan direduksi menjadi juru bicara geopolitik.

Tuhan yang Dipersenjatai

Mari kita pakai logika sederhana.

Jika Tuhan Maha Pengasih, untuk apa Ia menciptakan manusia dengan akal, hati nurani, dan kapasitas cinta — hanya untuk memerintahkan mereka saling membunuh? Jika perang adalah “rencana ilahi”, maka apa makna ajaran kasih dalam Kekristenan? Apa makna keadilan dalam Yudaisme? Apa makna rahmat dalam agama-agama samawi?

Mengatakan perang adalah mandat Tuhan sama saja dengan mempersenjatai Tuhan.

Padahal, dalam tradisi teologis arus utama, perang selalu ditempatkan sebagai tragedi moral, bukan proyek suci. Bahkan doktrin just war dalam Kekristenan pun penuh syarat ketat dan selalu dianggap jalan terakhir, bukan misi surgawi.

Namun dalam politik modern, Tuhan kerap dipanggil bukan untuk membimbing nurani, tetapi untuk mengamankan legitimasi.

Politik yang Bersembunyi di Balik Langit

Konflik antara Washington dan Teheran tidak lahir dari wahyu. Ia lahir dari kepentingan strategis: pengaruh kawasan, keamanan sekutu, jalur energi, dan keseimbangan kekuatan global. Itu bahasa realpolitik, bukan kitab suci.

Ketika narasi “rencana Tuhan” dimasukkan, publik diarahkan untuk berhenti berpikir dan mulai percaya. Sebab siapa yang berani menentang rencana ilahi?

Inilah problemnya. Demokrasi mensyaratkan akuntabilitas. Tapi jika kebijakan militer dibungkus dengan legitimasi langit, maka ia kebal kritik.

Agama berubah fungsi: dari kompas moral menjadi tameng politik.

Logika Sehat vs Retorika Suci

Jika manusia diciptakan hanya untuk berperang, maka penciptaan adalah absurditas kosmik. Tapi hampir semua agama besar menolak kesimpulan itu. Manusia diberi kebebasan justru untuk memilih damai di tengah potensi konflik.

Perang bukan takdir metafisik. Ia adalah keputusan politik.

Dan keputusan politik harus diuji dengan rasio, data, dan pertimbangan etis — bukan dengan klaim wahyu sepihak.

Mengklaim Tuhan berada di satu sisi konflik juga secara implisit menuduh Tuhan berada di sisi lain sebagai musuh. Ini bukan teologi. Ini simplifikasi yang berbahaya.

Bahaya Sakralisasi Kekuasaan

Setiap zaman memiliki caranya sendiri untuk membenarkan perang. Dulu atas nama kerajaan. Lalu atas nama peradaban. Kini atas nama keamanan nasional. Jika semua itu belum cukup kuat, nama Tuhan dipanggil.

Masalahnya sederhana: ketika Tuhan ditarik masuk ke ruang perang, maka kekerasan memperoleh aura kesucian.

Dan kekerasan yang merasa suci selalu lebih sulit dihentikan.

Editorial ini bukan soal membela satu negara atau menyalahkan yang lain. Ini soal menjaga batas. Batas antara iman dan ambisi. Batas antara keyakinan pribadi dan kebijakan negara. Batas antara Tuhan dan peluru.

Karena ketika pemimpin mulai menjual perang dengan nama Tuhan, yang pertama kali dikorbankan bukan musuh — melainkan akal sehat warganya sendiri.

Dan sejarah menunjukkan: Tuhan tidak pernah membutuhkan perang untuk membuktikan kuasa-Nya. Manusialah yang terlalu sering membutuhkan Tuhan untuk membenarkan perang mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *